MENCARI REZEKI DENGAN MENJADI SEORANG PEMBERANI (2)

Suatu hari ada seorang lelaki lewat di depan rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, dan para shahabat radhiyallahu `anhu melihat kondisi lelaki tersebut dari kulit tubuhnya dan semangatnya (seperti lelaki pekerja yang tangguh- pen), maka rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berkata:

إن كان خرج يسعى على ولده صغارًا فهو في سبيل الله، و إن خرج يسعى على آبوين شيخين كبيرين فهو في سبيل الله، وإن كان يسعى على نفسه يعفّها فهو في سبيل الله، و إن كان خرج رياءً وتفاخرًا فهو في سبيل الشيطان

“Jika dia keluar bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka dia terhitung di jalan Allah, dan jika dia keluar bekerja untuk kedua orang tuanya, maka dia terhitung di jalan Allah, dan jika dia keluar bekerja untuk dirinya sendiri dalam rangka `iffah (menjaga kehormatan diri- pen) maka dia terhitung di jalan Allah  ,dan jika keluar dalam rangka riya` dan berbangga diri maka dia terhitung di jalan syaithon.” Hadits tersebut di bawakan Al-Imam Athobraany (13/491) rahimahullahu.

Hadits di atas menjelaskan kepada kita, betapa pentingnya seorang suami ketika bekerja mencari nafkah untuk keluarganya, dia niatkan semata-mata karena mengharap ridha Allah Ta`ala, bukan untuk berbangga diri dan sombong di hadapan manusia, karena sifat tersebut akan menyeret dirinya di jalan syaithon.

Kita harus menyadari, bahwa apa yang kita upayakan dan hasil yang kita dapatkan, semuanya itu bukan karena kecerdasan kita, bukan pula karena keahlian kita dalam bekerja, akan tetapi semuanya itu karena sesuatu yang telah Allah Ta`ala kehendaki.
Sejatinya manusia adalah makhluk yang sangat lemah dari semua sisi dan keadaan, Allah Ta`ala berfirman dalam surat Faathir ayat 15-17 :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (17)

“Hai manusia, kalian semua adalah makhluk yang miskin di sisi Allah, dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji, Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”  
Berkata Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah: … dan diantara bentuk keutamaan jihad, ialah mencari perkara yang halal (bekerja- pen) ,bahwasannya bekerja itu termasuk jihad dalam perkara umurnya, dirinya bekerja bukan satu hari, atau setahun ,atau sepuluh tahun ,akan tetapi seluruh hidupnya (teranggap jihad- pen) sampai dirinya meninggal dunia. Allah memuliakan dan memberi karunia kepadanya dengan jihadnya (bekerja- pen), dan berapa banyak seseorang jihad melawan orang-orang kafir, akan tetapi dirinya lalai dari jihad (bekerja- pen) dari sesuatu yang halal.

Pembaca rahimakumullah, para pendahulu kita yang shalih mereka adalah para ulama, mereka terdepan memberikan contoh kepada umat islam dalam perkara yang halal, mari kita simak penuturan Sa`id ibnul Musayib Rahimahullahu tatkala meninggalkan beberapa dinar untuk keluarganya.  Beliau rahimahullahu berkata:

اللهم إنك تعلم أني لم أجمعها إلا لآصون ديني وحسبي

“Yaa Allah, sungguh diriMu mengetahui bahwa diriku tidaklah mengumpulkan (harta yang halal- pen) ,kecuali dalam rangka menjaga agamaku dan keturunanku.”

Yakni beliau rahimahullah mengumpulkan mencari harta dan membelanjakannya semua di jalan yang halal dan dengan tujuan untuk menjaga agama dan keturunannya. [Abu Nu`aim dalam Alhilyah 2/173 dan Albaihaqi dalam Asyu`ab 2/449].

Diriwayatkan pula dari jalan Adainury dalam Almujaalasah nomer 2479 dari Ibnu Hudzaifah berkata:

Orang-orang bertanya kepada Sufyan Ats-Tsaury rahimahullahu: “Yaa Aba Abdillah, sungguh manusia mengingkari perbuatanmu ketika keluar ke yaman, maka beliau Rahimahullahu menjawab: Yaa Subhaanalloh ! Mereka mengingkari diriku sesuatu yang bukan kemungkaran yang aku lakukan (sikap terheran-heran- pen), keluarku ke negeri yaman adalah rangka mencari sesuatu yang halal (bekerja- pen), dan mencari perkara yang halal itu berat, dan seseorang keluar dalam rangka mencari yang halal itu lebih utama daripada ibadah haji dan perang.”

Subhaanalloh betapa indahnya kisah di atas, derajat ulama yang mereka sandang, tidak menghalangi mereka untuk mencari yang halal, dan sungguh jauh dengan kondisi manusia di hari-hari ini, bekerja tidak mengenal halal dan haram, semua sama baginya, yang terpenting bagi dirinya adalah kepuasan hawa nafsunya iyyadzan billah.

Pembaca rahimakumullahu, ketika seseorang bekerja dengan menempuh cara-cara yang haram, maka ketahuilah semuanya itu adalah dosa dan kemaksiatan, dan dua perkara tersebut (dosa dan maksiat) akan menimbulkan dampak kepada dirinya yakni terhalangi dari rezeki yang barokah.

Simak dan renungkan 2 ayat dalam surat Al-An`am pada ayat ke 44 dan 45:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (44) فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (45)

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membuka pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah rabb semesta alam.”

Al-Imam Abu Ja`far Ath-Thobary membawakan ucapan Ibnu `Abbas radhiyallahu `anhu ketika menafsirkan ayat di atas:

عن ابن عباس قوله:”فلما نسوا ما ذكروا به”، يعني: تركوا ما ذكروا به.

… maka ketika mereka meninggalkan apa-apa yang mereka diperingatkan dengannya..

Itulah keadaan orang-orang yang tertipu dengan dosa dan kemaksiatan, tidak mau mendengar perintah Allah dan RasulNya, maka Allah Ta`ala mengazab dan membinasakannya.

Bersambung Insya Allah …

Akhukum fillah Abu Ibrahim Abdurrahman Alfasawy fi Daarul Hadits Alfiyusy Harasahallahu.

Dinukil dari: http://forumsalafy.net/?p=1831