Mematuhi Juragan Yang Tidak Shalat

Penulis: Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa

Pertanyaan kesembilan Fatwa no. 7607

Tanya 9 :

Apakah diperbolehkan bagi seseorang untuk mematuhi majikannya yang dianggap kafir  karena dia tidak melakukan Shalat? Apakah wajib pada dia untuk menaati majikannya jika sesungguhnya ia adalah kafir? Jika karyawan tidak dapat menasehati dia, apa yang harus dia lakukan? Mohon nasehatnya.

Jawab:

Mengabaikan kewajiban Shalat adalah perbuatan kekufuran menurut Ijma `ulama. Demikian pula, meninggalkan Shalat karena kemalasan dan kelalaian juga merupakan tindakan kufur menurut pendapat ulama lebih kuat. Siapa pun tahu bahwa seorang Muslim yang tidak mampu melakukan Shalat, harus melakukan dengan baik pada dirinya untuk melakukan Shalat sesuai dengan kemampuan sendiri. Jika majikannya tidak melakukan shalat, dia tidak diizinkan untuk mematuhinya dalam ketidaktaatan kepada Allah, melainkan ia harus ditaati dalam dari apa yang ada padanya kebaikan.

Wabillahi taufiq. Semoga damai dan rahmat Allooh Subhanahu wa ta’ala atas Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wassalam, keluarganya, dan sahabatnya

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua: ` Abdul `Aziz bin Abdullah bin Baz`

Wakil Ketua: ` Abdul Razzaq Afify `

Anggota:

`Abdullah bin Qa` ud

`Abdullah bin Ghudayyan

Terjemahan dari:

http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=7&PageID=9142&back=true