Hukum Uang Taxi, Suap, Komisi dan Perlakuan Terhadap Uang Korupsi

Tanya Uang Taxi (Perjalanan Dinas)

Assalamu ‘alaykum ustadz,

Ana mau tanya… Dalam perjalanan dinas di kantor, ana mendapat fasilitas taxi dari rumah ke bandara (penggantian sesuai biaya taxi).

Bagaimana hukumnya jika ana menggunakan bus Damri, namun tetap mengklaim biaya taxi ke kantor?

Jazakallahu khair..

Achmad Tofany <achmad.toxxxx@gmail.com>

Jawaban Al-Ustadz Dzulqornain Abu Muhammad

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Apabila keadaannya seperti yang disebutkan oleh penanya -semoga Allah senantiasa melimpahkan taufiq dan kebaikan kepadanya-, maka lebih dari biaya tersebut hendaknya dikembalikan kepada kantor sebagai bentuk pelaksanaan amanah. Dan dalil-dalil tentang menunaikan amanah adalah hal yang dimaklumi.

Wallahu A’lam

——————- ***  ——————-

Tanya Perlakuan Thd uang hasil Korupsi

Bismillah, Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Kaifa haaluk ya Ustadzuna? La’allaka bikhoir.

Saya bertanya kepada Ustadz satu masalah yang mungkin dihadapi banyak Pegawai Negeri, yaitu bagaimana mensikapi uang hasil korupsi.

Sebagai contoh korupsi disini adalah tugas2 perjalanan dinas fiktif, mark-up nilai proyek atau bahkan proyek2 fiktif, dimana uang2 hasil perbuatan tersebut dibagi2kan kepada para pegawai baik yang berhubungan langsung maupun yang tidak berhubungan dengan proyek itu.

Ada sebagian pegawai yang kebingungan memperlakukan uang2 seperti ini karena mereka tahu bahwa ini adalah uang Haram dan mereka tidak mau memanfaatkannya sama sekali untuk kepentingan mereka.

Namun, apakah boleh memperlakukan uang2 korupsi ini seperti perlakuan terhadap uang hasil riba?
Sebagaimana Fatwa Syaikh Al Imam Abdul Aziz ibn Baz dan Syaikh Ahmad Ibn Yahya an Najmi rahimahumallah, yang membolehkan uang hasil riba untuk diberikan kepada fuqoro wal masakiin, atau membayarkan hutang seseorang, membangun jalan, jembatan, dan yang semisalnya.

Perlu diketahui bahwa Pemerintah RI belum mengatur mekanisme pengembalian uang korupsi seperti ini bagi koruptor2 yang mau bertaubat danmengembalikan dana yang mereka korupsi.

Kami sangat membutuhkan jawaban dari Ustadz, Jazakallahu khairon katsiiro. Semoga Allah senantiasa menjaga Ustadz dan kami semua, memberkahi umur antum dalam dakwah ini, menjadikan hati2 kami mudah menerima bimbingan dari antum dan memudahkan kami mengamalkannya, Aamiin Ya Mujiibas
Saailiin.

Auzai Zaid <auzai.xxxx@gmail. com>

Jawaban Al-Ustadz Dzulqornain Abu Muhammad

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Sejumlah ulama -seperti An-Nawawy dan selainnya- menyebutkan bahwa harta dari sumber yang haram, terdapat  dua keadaan;

Satu : Diketahui pemiliknya. Tentunya dalam keadaan ini harta tersebut dikembalikan kepada pemiliknya.

Dua : Pemiliknya tidak dikenal atau sulit untuk diketahui(dan Insya Allah pertanyaan antum masuk dalam keadaan ini). Maka harta tersebut diarahkan kepada apa-apa yang merupakan mashlahat umum bagi kaum muslimin seperti membangun jembatan,jalan umum, mesjid dan selainnya. Jika tidak,maka boleh untuk disedekahkan.

Wallahu Ta’ala A’lam.

——————- ***  ——————-

Bismillah,
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ustadz, bagaimana jika hasil korupsi tersebut berupa barang? dan jika dijual mungkin barang tersebut tidak bernilai?
Jazakumullah Khairan.

rudy siswanto rsiswxxxx@yahoo.com

Jawaban Al-Ustadz Dzulqornain Abu Muhammad

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Saya kira masih tetap ikut kepada rincian yang telah kami sebutkan.

Juga dimaklumi bahwa bersedekah mungkin dengan bentuk barang.

Wallahu A’lam

——————- ***  ——————-

Tanya tentang suap

Bismillah,

Kepada Para Asatidz hafidzakumullahu jami’an, yang kami cintai.

Saya ingin menanyakan, beberapa waktu lalu saya mengajukan lamaran kerja di suatu instansi.  Ada pegawai instansi tersebut menelpon saya, bahwa untuk membantu agar saya diterima dan untuk mengurusnya diperlukan biaya sekian juta.  Saya diberi waktu 1 minggu. dan kalau tidak dibayar maka saya tidak bisa diterima.

Apakah kalau saya memberikan uang yang diminta tersebut termasuk suap? Dan saya berdosa.

Terima kasih atas jawaban dan sarannya.

Abu Abdirrahman Widodo – Depok

021-7138xxxx / 08528631xxxx

Aly Abdullah <lyxxxx@yahoo.co.id>

Jawaban Al-Ustadz Dzulqornain Abu Muhammad

Bismillah,

Menyuap adalah perbuatan risywah yang terlarang. Risywah adalah memberi sesuatu untuk mendapat sesuatu yang bukan haknya atau yang belum tentu menjadi haknya, atau untuk membatalkan sebuah hak orang lain.
Dan hal tersebut adalah haram berdasarkan hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma,

“Laknat Allah terhadap orang memberi risywah dan menerima risywah.” (Riwayat Ahmad, Tirmidzy, Hakim dan selainnya)

Maka yang ana nasehatkan, antum menempuh proses resmi dan wajar saja sesuai dengan prosudur. Dan Allah tidak akan menelantarkan siapa yang bertakwa kepada-Nya. Dan siapa yang meninggal sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan hal yang lebih baik darinya.

Wallahu A’lam

——————- ***  ——————-

Tanya tentang suap/KOMISI

Assalamuallaikum warohmatullahhi wabarakatuh.

Jazakallah pencerahannya ustad.

Kalau mengenai komisi bagaimana?

Misalnya :

  1. Ana sebagai perantara antara si A dengan B.

Si A membeli produk dari si B, harga penawaran B kita titipkan beberapa rupiah sebagai komisi ana. Misalnya harga B 500 + komisi ana 50 : 550. Sedangkan si A taunya harga 550. Apakah yang 50 untuk ana itu halal?

  1. Ana mensuply produk ke pabrik C,

Pegawai/bagian pengadaan pabrik tersebut titip harga ke ana agar dinaikkan beberapa rupiah yang nantinya diperuntukkan untuk dia, apakah boleh hukumnya?

Mohon pencerahanya Ustad.

Jazakallah khairan khatsiro.

Arif

Arif Adisusilo arif.adisuxxxx@gmail.com

Jawaban Al-Ustadz Dzulqornain Abu Muhammad

Wa’alaikumussalam Warahamatullahi Wabarakatuh

Al-Akh Arif -waffaqahullah-, jawaban pertanyaan antum sebagai berikut,

1.Kalau antum dan si B berserikat dalam bisnis, maka bentuk yang antum sebutkan tidak masalah, karena harga hakikatnya dari si B. Tapi kalau antum tidak punya hubungan bisnis dengan si B maka si A harus tahu berapa harga aslinya dan ridho untuk antum tambahan 50 itu kecuali kalau telah terjalin kesepatan atau kebiasaan antara antum dan si A akan suatu akaq tertentu. Misalnya tiap kali antum dititipi belanja, maka antum mendapat komisi 5% jumlah belanja.

2. Apa yang antum sebutkan dalam pertanyaan kedua adalah hal yang tidak diperbolehkan. Karena itu tergolong tolong menolong dalam kemaksiatan. Pegawai pabrik tersebut telah melakukan dua kesalahan; Satu, Seorang pegawai tidak boleh mengambil upah atau manfaat dari pekerjaan yang dia telah digaji dan diupah padanya. Dua, Perbuatan tersebut akan mengakibatkan adanya pemalsuan harga kepada pabrik.

Wallahu A’lam

——————- ***  ——————-

SUMBER : milinglist nashihah@yahoogroups.com versi offline dikumpulkan kembali oleh dr.Abu Hana untuk http://kaahil.wordpress.com

Assalamuallaikum warohmatullahhi wabarakatuh
Ustad, jika ada PNS yang korupsi dan dia telah menggunakan uang tersebut, bagaimana cara dia untuk bertaubat?
Jazakallah khairan khatsiro.
Wassalamu’alaikum

@ Wa’alaikumussalaam Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Jawaban Al-Ustadz Dzulqarnain diatas :

Sejumlah ulama -seperti An-Nawawy dan selainnya- menyebutkan bahwa harta dari sumber yang haram (termasuk korupsi-red), terdapat dua keadaan;

Satu : Diketahui pemiliknya. Tentunya dalam keadaan ini harta tersebut dikembalikan kepada pemiliknya.

Dua : Pemiliknya tidak dikenal atau sulit untuk diketahui(dan Insya Allah pertanyaan antum masuk dalam keadaan ini). Maka harta tersebut diarahkan kepada apa-apa yang merupakan mashlahat umum bagi kaum muslimin seperti membangun jembatan,jalan umum, mesjid dan selainnya. Jika tidak,maka boleh untuk disedekahkan.

Wallahu Ta’ala A’lam.

)* Jika masih mungkin untuk dikembalikkan (diganti) maka harus diganti. Seandainya sulit untuk mengembalikannya (karena tidak jelas dikembalikan kepada pihak mana) maka bertaubatlah kepada Allah Ta’ala dan banyaklah berinfaq-shadaqah. Wallaahu ‘alam.

Dinukil dari: http://kaahil.wordpress.com/2009/11/09/hukum-uang-taxi-suapkomisi-dan-bagaimana-perlakuan-terhadap-uang-korupsi/