MEMBERIKAN WAKTU YANG TERBAIK BAGI ILMU

🌻🌹🍃🌷MEMBERIKAN WAKTU YANG TERBAIK BAGI ILMU

🎗Asy Syaikh Al ‘Allamah Zaid Bin Muhammad Hadi Al Madkhaly رحمه الله berkata :

▪️Bisa jadi seseorang memiliki tanggung jawab berupa pekerjaannya menjadi pedagang atau tanggung jawab berupa pekerjaannya sebagai pegawai hanya saja tidak semestinya pekerjaan tersebut adalah segala sesuatu baginya namun seharusnya ia memberikan waktunya yang terbaik dari waktu-waktu malam dan siangnya untuk (menuntut) ilmu, apabila ia melakukan hal tersebut maka ia telah berbuat baik bagi dirinya dengan menempuh jalan terbaik yang telah dibimbingkan oleh Rasul yang ma’shum ‘alaihis shalatu was salam yang nashih (tulus) dan amin (terpercaya), dan jika dunia telah mempermainkan akal-akal manusia lalu ia meninggalkan ilmu maka kejahilan akan menimpanya dan itulah kesengsaraan dan itulah kerugian.

📔Nuzhatul Qary Fi Syarhi Kitabil Ilmi Min Shahihil Bukhary hal.73.

🌎Sumber : https://mobile.twitter.com/zaydalmadkhali/status/681274397093658625/photo/1

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
telegram.me/dinulqoyyim

زيد المدخلي
ماذا ينبغي لمن التزامات بالتجارة أو العمل الوظيفي للعلامة زيد بن محمد المدخلي – رحمه الله -. https://twitter.com/hashtag/العلامة?src=hash https://twitter.com/hashtag/زيد_المدخلي?src=hash

 

Kewajiban Amanah Dalam Bekerja

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

أَدِّ اْلأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikanlah amanah kepada orang yang telah menyerahkan amanah (kepercayaan) kepadamu dan jangan engkau khianati orang yang telah mengkhianatimu.” (HR. Abu Dawud no. 3068 dan at-Tirmidzi no. 1185 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Para pembaca yang berbahagia, amanah (kepercayaan) yang diberikan kepada seseorang merupakan suatu pemberian yang tidak ternilai harganya. Dengan amanah, keberkahan (kebaikan yang banyak) dalam kehidupan seorang muslim dapat diraih.

Mari sejenak kita mengkaji kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Kala itu, seorang saudagar wanita yang bernama Khadijah mempercayakan barang dagangannya kepada beliau yang masih muda untuk diperdagangkan ke negeri Syam. Maka berangkatlah beliau menjalankan amanah tersebut. Tak berapa lama, beliau kembali ke kota Makkah dengan membawa keuntungan yang besar dari hasil dagangannya. Dari sini, mulailah Khadijah tertarik dengan kepribadian beliau yang jujur dan penuh amanah hingga akhirnya mengantarkan keduanya ke jenjang pernikahan. Sifat jujur dan penuh amanah ini melekat pada pribadi beliau. Tak heran, bila penduduk Makkah menjuluki beliau dengan al-Amin (yang terpercaya)

Dalam kisah ini dapat diambil pelajaran bahwa sifat amanah memegang peran kunci dalam mengantarkan seorang pegawai atau pekerja menuju kesuksesan dunia dan akhirat.

Seorang pegawai atau pekerja yang bekerja dengan amanah dan penuh keikhlasan maka akan mendapatkan ganjaran di dunia dan di akhirat. Apabila seorang pegawai atau pekerja telah bekerja dengan amanah dan diiringi dengan niat mengharap pahala dari Allah subhanahu wata’ala berarti dia telah menunaikan kewajibannya sehingga berhak mendapatkan gaji dari hasil pekerjaannya tersebut di dunia dan akan mendapatkan pahala di akhirat kelak.

Adapun gambaran perwujudan amanah dalam bekerja antara lain:

  1. Menjaga Kedisiplinan Jam Kerja

Kedisiplinan jam kerja disini tidak hanya tepat waktu pada saat kehadiran di tempat kerja dan selesai kerja, namun benar-benar mengalokasikan jam kerja sesuai dengan job (pekerjaan) yang menjadi bidang tugasnya, dan waktunya pun tidak digunakan untuk kegiatan lain yang bukan bidang tugasnya.

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah (mantan rektor Universitas Islam Madinah) berkata, “Wajib bagi setiap pegawai atau pekerja untuk menyibukkan diri di saat jam kerja dengan pekerjaan yang memang merupakan tugasnya. Tidak boleh menyibukkan diri dengan tugas lain yang bukan pekerjaan yang wajib dia tunaikan.

Kemudian beliau melanjutkan, “Janganlah dia menyibukkan jam kerjanya atau sebagian jam kerjanya untuk suatu kepentingan tertentu dan tidak pula kepentingan yang lainnya apabila kepentingan tersebut tidak ada hubungannya dengan pekerjaan atau tugasnya. Karena sesungguhnya jam kerja hakikatnya bukan milik pegawai atau pekerja akan tetapi jam kerja adalah semata-mata untuk pekerjaan yang memang menjadi bidang tugasnya yang dia diberi gaji sebagai bentuk imbalan atas pekerjaan tersebut.” (Kaifa Yuaddi al-Muwazhzhaf al-Amanah, hlm. 11)

Lalu bagaimana dengan sebagian mereka yang sampai keluyuran (keluar dari tempat kerja) menuju hotel, tempat-tempat hiburan, dan pusat perbelanjaan pada saat jam kerja?!

Sebagaimana seorang pegawai atau pekerja ingin mendapatkan gaji yang penuh dan tidak mau dipotong atau dikurangi sedikitpun dari gaji tersebut maka hendaknya diapun tidak memotong atau mengurangi jam kerjanya dengan melakukan pekerjaan lain selain bidang tugasnya.

  1. Tidak Menerima Suap

Wajib atas setiap pegawai atau pekerja untuk memiliki sifat ta’affuf (menjaga harga diri), kemuliaan jiwa, sifat qana’ah (merasa cukup) dan menjauhkan diri dari perbuatan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak sah seperti menerima suap sekalipun diistilahkan dengan hadiah atau yang populer dengan sebutan gratifikasi. Sebab dengan menerima suap atau hadiah atau gratifikasi akan mendorongnya melakukan perbuatan-perbuatan yang cenderung tidak amanah.

Di dalam sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ada beberapa hadits yang menunjukkan larangan bagi pegawai atau pekerja untuk menerima suap atau hadiah atau gratifikasi. Disebutkan oleh Abu Humaid as-Saidi radhiyallahu anhu bahwa dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkat seorang dari bani Asad yang bernama Ibnu Lutbiyah sebagai pegawai pengumpul zakat. Tatkala sampai dihadapan Rasulullah untuk melaporkan hasil kerja, dia berkata, “Ini adalah harta zakat, aku serahkan kepada engkau adapun ini adalah hadiah dari seseorang untukku.”

Maka Rasulullah pun naik ke atas mimbar, memuji dan menyanjung Allah kemudian bersabda, “Bagaimana keadaan orang yang aku utus untuk (mengumpulkan zakat) dengan mengatakan, ‘Ini adalah harta zakat, aku serahkan kepada engkau adapun ini adalah hadiah dari seseorang untukku’, Mengapa dia tidak duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya sambil menunggu apakah ada orang yang memberikan hadiah kepadanya ataukah tidak? Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang di antara kalian menggelapkan sesuatu dari harta zakat melainkan kelak akan datang pada hari kiamat dalam keadaan memikul unta yang digelapkannya itu melenguh-lenguh di atas lehernya atau sapi yang melenguh atau kambing yang mengembik.” (HR. Muslim no. 3413 dari shahabat Abu Humaid as-Saidi radhiyallahu anhu)

  1. Menyelesaikan Pekerjaan Dengan Tertib

Termasuk sikap adil dalam bekerja adalah menyelesaikan setiap pekerjaannya dengan tertib dimulai dari pekerjaan yang awal kemudian berikutnya sampai yang terakhir. Yang demikian ini akan memberikan kepuasan hati baik bagi si pegawai atau pekerja maupun bagi orang yang memberikan pekerjaan tersebut. Jangan mendahulukan pekerjaan yang terakhir atau mengakhirkan pekerjaan yang pertama.

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang menceritakan suatu kaum di sebuah majelis, datanglah seorang arab badui dan langsung berkata, “Kapan datangnya hari kiamat?” Nabi tidak menjawab pertanyaan tersebut dan tetap melanjutkan ceritanya. Sampai ada yang mengira bahwa beliau mendengar ucapannya namun tidak menyukai ucapan tersebut atau beliau memang tidak mendengar ucapannya. Tatkala beliau telah selesai bercerita barulah beliau menjawab pertanyaan orang tadi. (HR. al-Bukhari no. 57 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Sisi pendalilan dari hadits ini adalah  Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menjawab pertanyaan orang tersebut melainkan setelah menyelesaikan cerita tentang suatu kaum, karena orang tersebut datang belakangan.

Kriteria Memilih Pegawai Atau Pekerja.

Adapun kriteria dasar yang patut diperhatikan dalam penerimaan pegawai atau pekerja adalah hendaknya calon pegawai atau pekerja memiliki kemampuan dan sifat amanah. Seorang pegawai atau pekerja yang memiliki kemampuan maka dia akan bisa melaksanakan pekerjaan dengan baik sesuai yang dituntut darinya. Adapun dengan sifat amanah maka seorang pegawai atau pekerja akan menunaikan pekerjaan tersebut dengan penuh tanggung jawab dan akan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Kriteria dasar yang demikian diambil dari firman Allah subhanahu wata’ala tatkala Allah mengisahkan tentang salah satu dari dua wanita penduduk Madyan yaitu putri Nabi Syu’aib yang mengatakan kepada sang ayah ketika dia dan saudarinya pernah ditolong oleh Nabi Musa mengambilkan air minum untuk hewan ternaknya,

“ … Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan amanah (dapat dipercaya).” (al-Qashash: 26)

Allah azza wajalla menceritakan tentang Ifrith dari kalangan jin yang menyatakan kesediaannya kepada Nabi Sulaiman untuk mendatangkan istana Ratu Saba’(Bilqis). “Ifrith dari golongan jin berkata, ‘Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu, dan sungguh aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya’.”(an-Naml: 39)  

Allah azza wajalla juga menceritakan tentang kisah Nabi Yusuf, tatkala beliau mengatakan kepada sang raja, “Dia (Yusuf) berkata, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan’.”(Yusuf: 55)

Adapun lawan dari kemampuan dan amanah adalah lemah dan khianat (tidak amanah). Maka orang yang tidak memiliki kemampuan/lemah serta suka khianat tidak pantas dipilih sebagai pegawai atau pekerja.

Ketika khalifah Umar bin al-Khatthab radhiyallahu anhu mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai gubernur di kota Kufah, sebagian orang-orang bodoh dari kalangan penduduk Kufah memfitnah sang gubernur dihadapan Umar bin Khattab. Maka Umar pun mengambil keputusan demi kebaikan yang lebih besar dengan mencopot Sa’ad bin Abi Waqqash dari jabatan sebagai gubernur Kufah yaitu untuk meredam gejolak fitnah dan agar jangan sampai ada seorangpun menganiaya Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu.

Akan tetapi Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu tatkala mengalami sakit menjelang kematiannya menetapkan 6 orang dari shahabat Rasulullah sebagai bakal calon khalifah sepeninggal beliau. Di antara 6 orang pilihan itu adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Hal ini beliau lakukan karena kekhawatiran akan munculnya prasangka bahwa Umar mencopot Sa’ad bin Abi Waqqash dari jabatan gubernur Kufah disebabkan Sa’ad tidak becus dalam memimpin wilayah. Prasangka itupun hilang seiring dengan pernyataan Umar,

فَإِنْ أَصَابَتِ الإِمْرَةُ سَعْدًا فَهُوَ ذَاكَ، وَإِلاَّ فَلْيَسْتَعِنْ بِهِ أَيُّكُمْ مَا أُمِّرَ، فَإِنِّي لَمْ أَعْزِلْهُ عَنْ عَجْز، وَلاَ خِيَانَةٍ

“Apabila kekuasaan ini jatuh pada Sa’ad maka dialah yang berhak, namun kalau tidak, maka hendaklah kalian meminta bantuan kepada beliau siapa saja di antara kalian yang memerintah. Sesungguhnya aku tidaklah mencopot Sa’ad disebabkan ketidakmampuannya dan bukan karena khianat.” (HR. al-Bukhari  no. 3424)

Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman Muhammad Rifqi hafizhahullah

Dinukil Dari: http://mahad-assalafy.com/kewajiban-amanah-dalam-bekerja/

(DOWNLOAD AUDIO) TANYA-JAWAB: APAKAH TERMASUK KESYIRIKAN APABILA TAKUT KEPADA BOS/MAJIKAN?-AL USTADZ MUHAMMAD UMAR AS SEWED hafidzahullohu ta’ala

TEMA  DAUROH : Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid

JUDUL AUDIO    : Apakah Termasuk Kesyirikan Apabila Takut Kepada Bos/Majikan?

PEMATERI           : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed hafidzahullohu ta’ala

TEMPAT               : Masjid Agung Baitussalam Purwokerto

TANGGAL           : 11 Rajab 1438 H/8 April 2017

Cara Mendownload File Audio Kajian:
1. Arahkan kursor pada gambar “DOWNLOAD”
2. Klik sisi kanan pada mouse.
3. Pilih Save Link As
4. Setelah muncul tampilan lalu klik Save

Link Download:

WAKTU BERKAH DI PAGI HARI

🍃🌼 WAKTU BERKAH DI PAGI HARI 🌼🍃 Jangan sampai terlewatkan. ————————

🔰 Dari Shahabat Shokher Al-Ghomidi rodhiyallahu ‘anhu ,

«اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا»

“Ya Allah berkahilah untuk umatku awal waktu pagi mereka.”

📚 [ HR. Ahmad no. 15443, 15557, 15558, 19430, 19479, 19480, 19481, Abu Dawud no. 2606, At-Tirmidzi no.1212, Ibnu Majah no. 2236, 2238. ] Dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani -rohimahullah- dalam kitab “Shohih Al-Jami’” no. 1300, “Shohih Abi Dawud” no. 2345, “Al-Misykah” no. 3908.

📌 Hadits ini juga diriwayatkan dari shahabat Ali, Ibnu Mas’ud, Buroidah, Anas, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Jabir rodhiyallahu ‘anhum. [ Lihat Sunan At-Tirmidzi no. 1212. ]

〰〰〰〰 🔘 Berkah atau barokah adalah kebaikan yang banyak dan bersifat tetap. [ Syarah Shohih Muslim (1/225) & (4/116); An-Nawawi & Tafsir Al-Qurtubi (4/139). ] 〰〰〰〰

🌷Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah menjelaskan;

”Bahwa yang namanya ‘Siang hari’ adalah waktu untuk mencari penghidupan. Sebagaimana Allah –Ta’ala- berfirman (artinya):

”Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” [ An-Naba`: 11 ]

👌 Apabila seseorang itu memanfaatkannya sejak awal waktu, maka yang demikian itu akan menjadikannya berkah. Dan ini suatu perkara yang bisa kita saksikan, tatkala seseorang melakukan suatu pekerjaan di awal waktu pagi, maka ia akan mendapatkan berkah pada pekerjaannya.

🔻 Hanya saja, yang sangat memprihatinkan; kebanyakan dari kita di masa ini tidur di awal waktu pagi, tidak bangun dari tidurnya kecuali setelah datang waktu Dhuha. Sehingga terlewatkan darinya awal waktu pagi yang penuh berkah. 📚 [ Syarah Riyadhis Sholihin (4/582) ]

Wallahul Muwaffiq (AH)

#Barokah #Keutamaan #WaktuPagi #Jauhi_TidurPagi 〰〰➰〰〰 🔰 YOOK NGAJI YANG ILMIAH 🔻 (Memfasilitasi Kajian Islam secara Ilmiah) 🌐🔻 Blog: https://Yookngaji.blogspot.com 🚀🌐🔻 Gabung Saluran Telegram: https://t.me/yookngaji

NASEHAT UNTUK PARA IKHWAH AGAR BERSEMANGAT PADA PEKERJAAN YANG TIDAK MENGIKAT

📮https://telegram.me/salafysolo/ ═══════ 📚 ══════

NASEHAT UNTUK PARA IKHWAH AGAR BERSEMANGAT PADA PEKERJAAN YANG TIDAK MENGIKAT

Berkata Asy Syaikh Mushthofaa Mabrom-hafidzohulloh

“Aku menasehatkan kepada saudara-saudaraku- jazaa humulloh khoiron– terkhusus yang tinggal diluar negara-negara Islam, untuk bersemangat pada pekerjaan yang tidak mengikat. Yang mereka bisa mengatur pekerjaannya sendiri. Dan ini bukan perkara yang mudah pada setiap orang, dikarnakan sudah maklum, bahwasanya hal tersebut dibutuhkan penciptaan lapangan kerja yang baru ataupun perencanaan modal. Akan tetapi aku berbicara kepada orang yang sanggup melakukannya…▶ Dan barangsiapa bisa melakukannya dan mampu mempekerjakan saudaranya sesama muslim pada pekerjaan tersebut, maka itu lebih baik bagi dia. ✅ Maka pekerjaan-pekerjaan yg sifatnya mengikat, sebagaimana aku mendengar dari Syaikh kami Muqbil-‘alaihi rohmatulloh– berkali-kali dan berulang-ulang, Beliau berkata: “Manusia yang paling kurang tawakkalnya adalah para pegawai..!”

Dan aku pernah mendengar Syaikh kami Al Fauzan- hafidzohullohu ta’aalaa-kurang lebih dua kali, pada syarah Beliau atas kitab “Al ‘Umdah”-pada pelajaran ‘umdatul ahkaam-.. “Menasehatkan untuk tidak menoleh kepada pekerjaan yang mengikat, dan supaya bekerja pada pekerjaan yang tidak mengikat, dan bahwasanya orang yang bergantung kepada pekerjaannya kurang tawakkalnya-atau yang semakna dengan itu-maka menjadikan dia bergantung dengan gaji.”

Maka aku nasehatkan kpd para ikhwan- jazaa humulloh khoiron– untuk mereka bersemangat mendapatkan pekerjaan yg tidak mengikat….🎯

Dan urusannya insyaa alloh menjadi mudah… “Dan sesungguhnya itu adalah amalan yang mudah pada orang yg Alloh mudahkan atasnya” 🗞🗞🗞🗞🗞🗞🗞🗞🗞🗞🗞

قناة الشيخ مصطفى مبرم الرسمية: ~ نصيحة للإخوة: بأن يحرصوا على الأعمال الحُرَّة

قال الشَّيخ مُصطفى مبرم حفظه الله:

أنا أنصح إخواني -جزاهم الله خيرًا- وخصوصًا في البلاد غير الإسلامية أن يحرصوا على الأعمال الحُرَّة الَّتي يستطيعون أن يتحكَّموا هم فيها -وهذا قد لا يتسنَّى لكلِّ أحد لأن من المعلوم أنَّه يحتاج لإقامة عمل أو مشروع: إلى مال- لكن نتكلَّم مع من استطاع ذلك، ومن استطاع ذلك واستطاع أن يقوم بتشغيل إخوانه المسلمين بهذه الأعمال فإنَّ هذا خير له؛ فالوظائف كما سمعتُ شيخنا مُقبل -عليه رحمة الله- مرارًا وتكرارًا كان يقول: (أقلّ النَّاس توكُّلا: أصحاب الوظائف)، وسمعتُ شيخنا الفوزان -حفظه الله تعالى- قدر مرَّتين في شرحه على “العُمدة” -في دروس عُمدة الأحكام- ينصح بعدم الالتفات إلى الوظائف والعمل بالأعمال الحُرَّة وأنَّ الَّذي يتعلَّق بالوظائف يقلّ توكُّله -أو بهذا المعنى- فيظلّ مُتقيِّدا على هذا الرَّاتب) فأنا أنصح الإخوان -جزاهم الله خيرًا- بأنْ يحرصوا على أن يحصلوا على الأعمال الحُرَّة الَّتي لا يتحكَّم فيهم بسببها أحد، والأمر إن شاء الله مُتيسِّر ((وَإنَّه لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ الله عَلَيْه)).

الدَّرس 23 / شرح الواسطية

📌 لمتابعة قناة الشيخ مصطفى مبرم الرسمية على التيليجرام /

https://goo.gl/eP2zm1 🛣🛣🛣🛣🛣🛣🛣🛣 📖 PELAJARAN 23 /SYARHUL WAASITHIYAH
✏ Ustadz Abu Umair 📤 @Yuk_Ngaji_Semarang

🎯 Publikasi ulang: @salafymandiri

🌅 @salafysolo ╚═══════🔎📚

ISLAM MEMBENCI PENGANGGURAN DAN KEMALASAN

💥⛔❌🔥 ISLAM MEMBENCI PENGANGGURAN DAN KEMALASAN

✍🏻 Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

ﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻳﻀﺮﺏ ﻣﻦ ﻭﺟﺪﻩ ﻗﺎﻋﺪﺍً ﻳﻀﺮﺑﻪ ﺑﺎﻟﺪﺭﺓ ﻭﻳﺄﻣﺮﻩ ﺑﺎﻟﻜﺴﺐ ﻭﻃﻠﺐ ﺍﻟﺮﺯﻕ.

“Dahulu Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu biasa memukul orang yang beliau jumpai menganggur, beliau memukulnya dengan cambuk dan menyuruhnya agar berusaha dan mencari rezeki.”

🌍 Sumber || http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13265

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Bekerja atau Menjalin Kontrak dengan Perusahaan yang Melakukan Bisnis atau Menjual Barang Haram

Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor:443

Pertanyaan 3: Apa hukum seorang muslim yang bekerja di perusahaan yang hanya memproduksi minuman keras dan barang-barang memabukkan?

(Nomor bagian 14; Halaman 409)

Jawaban 3: Minuman keras dan segala yang memabukkan diharamkan. Dengan demikian, mendirikan perusahaan minuman keras dan segala yang memabukkan, serta bekerja di tempat tersebut juga haram. Ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma yang telah mendengar Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, “Jibril `Alaihis Salam mendatangiku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah `Azza wa Jalla melaknat khamr, pemerasnya, peminumnya, pembawanya, orang yang minta dibawakan, penjualnya, pembelinya, dan penuangnya.'” diriwayatkan oleh al-Haitsami dalam kitab Majma’ az-Zawaid. Al-Haitsami mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani, dan seluruh perawinya tsiqat (memiliki integritas tinggi). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Hakim dengan tambahan kalimat “dan (laknat pula bagi) yang minta dibuatkan minuman keras”. Orang yang bekerja di perusahaan produsen minuman keras tidak boleh bertahan dengan pekerjaannya itu karena adanya hadits di atas. Hadis tersebut menunjukan bahwa semua pelakunya dilaknat serta dianggap tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Allah Ta’ala berfirman, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Adapun yang pernah terlanjur bekerja sementara dia tidak mengetahui hukumnya, maka dia dimaafkan berdasarkan sifat umum firman Allah Ta’ala,

(Nomor bagian 14; Halaman 410)

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah kemudian menyampaikanya kepada umat. Seorang hamba tidak mendapatkan beban, kecuali beban itu telah sampai kepadanya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi

Anggota:

Abdullah bin Abdurrahman bin Ghadyan

Abdullah bin Sulaiman bin Mani`

Sumber: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=id&View=Page&PageID=5381&PageNo=1&BookID=3