ISLAM MEMBENCI PENGANGGURAN DAN KEMALASAN

๐Ÿ’ฅโ›”โŒ๐Ÿ”ฅ ISLAM MEMBENCI PENGANGGURAN DAN KEMALASAN

โœ๐Ÿป Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

๏ป›๏บŽ๏ปฅ ๏ป‹๏ปค๏บฎ ๏บ‘๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏บจ๏ป„๏บŽ๏บ ๏บญ๏บฟ๏ปฒ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ปจ๏ปช ๏ปณ๏ป€๏บฎ๏บ ๏ปฃ๏ปฆ ๏ปญ๏บŸ๏บช๏ปฉ ๏ป—๏บŽ๏ป‹๏บช๏บู‹ ๏ปณ๏ป€๏บฎ๏บ‘๏ปช ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏บช๏บญ๏บ“ ๏ปญ๏ปณ๏บ„๏ปฃ๏บฎ๏ปฉ ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏ปœ๏บด๏บ ๏ปญ๏ปƒ๏ป ๏บ ๏บ๏ปŸ๏บฎ๏บฏ๏ป•.

“Dahulu Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu biasa memukul orang yang beliau jumpai menganggur, beliau memukulnya dengan cambuk dan menyuruhnya agar berusaha dan mencari rezeki.”

๐ŸŒ Sumber || http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13265

โšช WhatsApp Salafy Indonesia
โฉ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž

Bekerja atau Menjalin Kontrak dengan Perusahaan yang Melakukan Bisnis atau Menjual Barang Haram

Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor:443

Pertanyaan 3: Apa hukum seorang muslim yang bekerja di perusahaan yang hanya memproduksi minuman keras dan barang-barang memabukkan?

(Nomor bagian 14; Halaman 409)

Jawaban 3: Minuman keras dan segala yang memabukkan diharamkan. Dengan demikian, mendirikan perusahaan minuman keras dan segala yang memabukkan, serta bekerja di tempat tersebut juga haram. Ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma yang telah mendengar Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, “Jibril `Alaihis Salam mendatangiku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah `Azza wa Jalla melaknat khamr, pemerasnya, peminumnya, pembawanya, orang yang minta dibawakan, penjualnya, pembelinya, dan penuangnya.'” diriwayatkan oleh al-Haitsami dalam kitab Majma’ az-Zawaid. Al-Haitsami mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani, dan seluruh perawinya tsiqat (memiliki integritas tinggi). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Hakim dengan tambahan kalimat “dan (laknat pula bagi) yang minta dibuatkan minuman keras”. Orang yang bekerja di perusahaan produsen minuman keras tidak boleh bertahan dengan pekerjaannya itu karena adanya hadits di atas. Hadis tersebut menunjukan bahwa semua pelakunya dilaknat serta dianggap tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Allah Ta’ala berfirman, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Adapun yang pernah terlanjur bekerja sementara dia tidak mengetahui hukumnya, maka dia dimaafkan berdasarkan sifat umum firman Allah Ta’ala,

(Nomor bagian 14; Halaman 410)

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah kemudian menyampaikanya kepada umat. Seorang hamba tidak mendapatkan beban, kecuali beban itu telah sampai kepadanya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi

Anggota:

Abdullah bin Abdurrahman bin Ghadyan

Abdullah bin Sulaiman bin Mani`

Sumber: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=id&View=Page&PageID=5381&PageNo=1&BookID=3

Membebani Karyawan untuk Bekerja di Luar Jam Kerjanya, Padahal Tidak Ada yang Dikerjakannya

Fatwa Nomor:19818

( Nomor bagian 14; Halaman 405)

Pertanyaan: Saya sampaikan kepada Anda bahwa saya bekerja di sebuah badan pemerintah. Departemen atau bagian tempat saya bekerja meminta pada masa-masa tertentu penugasan kerja di luar jam kerja resmi, melalui penawaran yang diajukan kepada orang yang layak untuk diambil persetujuannya atas penugasan tersebut, dan biasanya penugasan tersebut disetujui. Penawaran tugas tersebut adalah sebagai berikut: Yang Terhormat Wakil Kementerian Bidang Keuangan dan Administrasi. Assalamu`alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh. Mengingat banyaknya pekerjaan yang dimiliki oleh departemen atau bagian yang tidak mungkin diselesaikan pada waktu kerja resmi, kami berharap Anda setuju untuk mengamanatkan departemen atau bagian agar bekerja di luar jam bekerja dan menentukan lama waktunya.

Perlu saya sampaikan kepada Anda bahwa pasal No. 26 tentang aturan pelayanan sipil menyatakan bahwa sebelum penugasan di luar jam bekerja, harus diperhatikan bahwa tidak ada cara untuk menyelesaikan pekerjaan selama jam kerja resmi. Saya pribadi bisa menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepada saya selama jam kerja . Pertanyaan saya kepada Anda: bolehkah saya mengambil bonus luar jam kerja resmi jika saya datang untuk bekerja di sore hari dan saya tetap berada di kantor pada waktu bertugas meskipun saya tidak mempunyai perkerjaan? Perlu saya sampaikan bahwa saya memiliki tanggungan keuangan, seperti pembayaran sewa rumah dan mobil. Kami mohon diberi penjelasan. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan dan memberi pahala yang besar.

( Nomor bagian 14; Halaman 406)

Jawaban: Jika Anda dapat melaksanakan tugas kantor dan menyelesaikannya selama jam kerja sementara pekerjaan yang akan Anda lakukan di luar jam kantor tidak ada, maka Anda tidak diperkenankan untuk menerima lembur ini dan Anda tidak boleh mengambil uang yang diberikan kepada Anda dengan cara tersebut karena bonus lembur di luar jam kerja resmi diberikan kepada orang yang mengerjakan pekerjaan pada waktu tersebut dan tidak bisa mengerjakannya pada waktu jam kerja resmi. Karena Anda tidak mempunyai pekerjaan di luar waktu kerja yang membolehkan Anda mengambil bonus, Anda mesti menghindarkan diri dari bekerja di luar jam kerja , demi membebaskan diri dari tanggungan, selama kenyataannya seperti yang Anda sebutkan.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil Ketua: Abdul Aziz Alu asy-Syaikh

Anggota

Shalih al-Fawzan

Bakar Abu Zaid

Abdullah bin Ghadyan

Sumber: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=id&View=Page&PageID=5377&PageNo=1&BookID=3

KIAT AGAR REZEKI BAROKAH

Pertanyaan:

Afwan Ustadz, Ana minta tausiyah kiat rezeki kita barokah. Jazakallah khoiron

Jawab:

Pertama, yakinlah bahwa sumber rezeki itu dari Allah semata. Dialah Yang Maha Berkuasa untuk melapangkan rezeki seorang hamba atau menyempitkannya.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุจู’ุณูุทู ุงู„ุฑู‘ูุฒู’ู‚ูŽ ู„ูู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽูŠูŽู‚ู’ุฏูุฑู

Allahlah yang melapangkan rezeki bagi yang dikehendakinya dan Dialah yang menyempitkan (rezeki) (Q.S ar-Raโ€™d:26)

Karena itu berdoalah kepadanya agar dikaruniai rezeki yang halal dan barokah.

Bebeberapa contoh Sunnah Nabi dalam dzikir dan doa yang beliau ajarkan, di antaranya:

1. Setelah selesai sholat Subuh, bacalah doa ini: Allaahumma Inni As-aluka โ€˜ilman Naafiโ€™an wa rizqon thoyyiban wa โ€˜amalan mutaqoobalaa (Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima).

ุนูŽู†ู’ ุฃูู…ู‘ู ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฅูุฐูŽุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูุจู’ุญูŽ ุญููŠู†ูŽ ูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุนูู„ู’ู…ู‹ุง ู†ูŽุงููุนู‹ุง ูˆูŽุฑูุฒู’ู‚ู‹ุง ุทูŽูŠู‘ูุจู‹ุง ูˆูŽุนูŽู…ูŽู„ู‹ุง ู…ูุชูŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ู‹ุง

Dari Ummu Salamah, bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam mengucapkan (doa) pada saat sholat Subuh selesai salam: Allaahumma Inni As-aluka โ€˜ilman Naafiโ€™an wa rizqon thoyyiban wa โ€˜amalan mutaqoobalaa (H.R Ibnu Majah, dishahihkan Ibn Hibban dan al-Albany)

2. Saat keluar dari masjid berdoa meminta agar dibukakan fadhilah (karunia) dari Allah, dengan membaca doa: Bismillah wassalaamu โ€˜alaa rosulillah Allaahummaghfir lii dzunuubiy waftahlii abwaaba fadhlika (Dengan Nama Allah, dan semoga keselamatan untuk Rasulullah. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan bukalah pintu-pintu karuniaMu)

ุนูŽู†ู’ ููŽุงุทูู…ูŽุฉูŽ ุจูู†ู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ููŠ ุฐูู†ููˆุจููŠ ูˆูŽุงูู’ุชูŽุญู’ ู„ููŠ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจูŽ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ููŠ ุฐูู†ููˆุจููŠ ูˆูŽุงูู’ุชูŽุญู’ ู„ููŠ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจูŽ ููŽุถู’ู„ููƒูŽ

Dari Fathimah bintu Rasulullah shollallahu alaihi wasallam beliau berkata: Adalah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam jika masuk masjid beliau mengucapkan:

Bismillah, wassalaamu โ€˜alaa rosuulillah Allahummaghfir lii dzunuubiy waftahlii abwaaba rohmatik.

Dan ketika keluar mengucapkan :

Bismillah wassalaamu โ€˜alaa rosulillah Allaahummaghfir lii dzunuubiy waftahlii abwaaba fadhlika (H.R Ibnu Majah, dishahihkan al-Albany)

Kedua, bersemangatlah dalam mencari rezeki yang halal. Pastikan rezeki yang kita terima berasal dari yang dihalalkan Allah, serta bertawakkal kepada Allah.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

ู‡ูŽุฐูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ ุฌูุจู’ุฑููŠู„ู ู†ูŽููŽุซูŽ ูููŠ ุฑูŽูˆู’ุนููŠ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ุงูŽ ุชูŽู…ููˆุชู ู†ูŽูู’ุณูŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุณู’ุชูŽูƒู’ู…ูู„ูŽ ุฑูุฒู’ู‚ูŽู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุจู’ุทูŽุฃูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุŒ ููŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุฃูŽุฌู’ู…ูู„ููˆุง ูููŠ ุงู„ุทู‘ูŽู„ูŽุจู ุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุญู’ู…ูู„ูŽู†ู‘ูŽูƒูู…ู ุงุณู’ุชูุจู’ุทูŽุงุกู ุงู„ุฑู‘ูุฒู’ู‚ู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฃู’ุฎูุฐููˆู‡ู ุจูู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูู†ูŽุงู„ู ู…ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุทูŽุงุนูŽุชูู‡ู

Ini adalah utusan Tuhan semesta alam (Jibril) meniupkan pada jiwaku bahwasanya tidaklah suatu jiwa mati hingga disempurnakan rezekinya. Meski dilambatkan kedatangannya. Bertaqwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari (rezeki). Jangan sampai lambatnya kedatangan rezeki menyebabkan engkau melakukan kemaksiatan kepada Allah. Karena tidaklah (boleh) didapatkan (rezeki) yang ada di sisiNya kecuali dengan ketaatan kepadaNya (H.R al-Bazzar no 2914, Ibnu Abid Dunya, dishahihkan Syaikh al-Albany)

ู„ูŽุง ุชูŽุณู’ุชูŽุจู’ุทูุฆููˆุง ุงู„ุฑู‘ูุฒู’ู‚ูŽุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู†ู’ ูŠูŽู…ููˆุชูŽ ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุจู’ู„ูุบูŽู‡ู ุขุฎูุฑู ุฑูุฒู’ู‚ู ู‡ููˆูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ููŽุฃูŽุฌู’ู…ูู„ููˆุง ูููŠ ุงู„ุทู‘ูŽู„ูŽุจู: ุฃูŽุฎูŽุฐู ุงู„ู’ุญูŽู„ูŽุงู„ูุŒ ูˆูŽุชูŽุฑูŽูƒู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู

Janganlah menganggap lambat datangnya rezeki. Karena tidaklah seorang hamba meninggal hingga disampaikan kepadanya akhir rezeki untuknya. Maka perbaguslah dalam mencari (rezeki): mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram (H.R Ibnu Hibban dan al-Hakim, disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby).

ketiga, bersikaplah qonaah, menerima pemberian Alloh dengan ridha

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ ูŠูŽุจู’ุชูŽู„ููŠ ุนูŽุจู’ุฏูŽู‡ู ุจูู…ูŽุง ุฃูŽุนู’ุทูŽุงู‡ู ุŒ ููŽู…ูŽู†ู’ ุฑูŽุถููŠูŽ ุจูู…ูŽุง ู‚ูŽุณูŽู…ูŽ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŽู‡ู ุจูŽุงุฑูŽูƒูŽ ู„ูŽู‡ู ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑู’ุถูŽ ุจูู…ูŽุง ู‚ูŽุณูŽู…ูŽ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูุจูŽุงุฑููƒู’ ู„ูŽู‡ู

Sesungguhnya Allah menguji hambaNya dengan pemberianNya. Barangsiapa yang ridha terhadap apa yang Allah bagikan untuknya, ia akan diberkahi. Barangsiapa yang tidak ridha dengan apa yang Allah bagikan untuknya, ia tidak akan diberkahi (H.R Ahmad, dishahihkan al-Albany dalam as-Shahihah)

Keempat, bersyukur atas pemberian Allah. Gunakan nikmat itu untuk beribadah kepadaNya, tidak untuk bermaksiat kepadaNya.

ูˆูŽุฅูุฐู’ ุชูŽุฃูŽุฐู‘ูŽู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ููƒูู…ู’ ู„ูŽุฆูู†ู’ ุดูŽูƒูŽุฑู’ุชูู…ู’ ู„ูŽุฃูŽุฒููŠุฏูŽู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุฆูู†ู’ ูƒูŽููŽุฑู’ุชูู…ู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุนูŽุฐูŽุงุจููŠ ู„ูŽุดูŽุฏููŠุฏูŒ

dan ketika Tuhan kalian mengumumkan bahwa jika kalian bersyukur sungguh Aku akan tambah (nikmat) bagi kalian dan jika kalian kufur, sesungguhnya adzabKu sangat pedih (Q.S Ibrohim ayat 7)


Kelima, perbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah serta berusaha menjauhi perbuatan dosa.

Istighfar dan taubat untuk menghapus dosa, sedangkan dosa adalah penyebab terhambatnya rezeki.

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽ ู„ูŽูŠูุญู’ุฑูŽู…ู ุงู„ุฑู‘ูุฒู’ู‚ูŽ ุจูุงู„ุฐู‘ูŽู†ู’ุจู ูŠูุตููŠุจูู‡ู

Sesungguhnya seseorang terhalangi dari rezekinya disebabkan dosa yang diperbuatnya (H.R Ahmad, Ibnu Majah, dishahihkan al-Hakim dan Ibnu Hibban, disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby, dihasankan oleh al-Iraqy).

Keenam, sambunglah silaturrahmi dengan orangtua dan karib kerabat dengan cara yang sesuai syarโ€™i.

ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุจู’ุณูŽุทูŽ ู„ูŽู‡ู ูููŠ ุฑูุฒู’ู‚ูู‡ู ูˆูŽูŠูู†ู’ุณูŽุฃูŽ ู„ูŽู‡ู ูููŠ ุฃูŽุซูŽุฑูู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽุตูู„ู’ ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู

Barangsiapa yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan usianya hendaknya menyambung silaturrahmi (H.R al-Bukhari dari Anas bin Malik)

(Abu Utsman Kharisman)

WA al-I’tishom

https://telegram.me/Riyadhussalafiyyin
Diarsipkan oleh http://www.happyislam.com
TANBIH: Tulisan dalam web boleh di-copy paste dengan syarat mencantumkan URL web Happy Islam di Address Bar. Mari kita amanah dalam penulisan!. Barakallahu fiikum

Sumber: http://www.happyislam.com/2016/08/kiat-agar-rezeki-barokah.html

Pekerjaan Adalah Amanah

Asy Syaikh Ahmad bin Mubarak bin Qadzlan al-Mazru’riy hafizhahullohuย  berkata:

“Bekerja di lembaga-lembaga pemerintah dan selainnya merupakan amanah yang wajib atas pegawai untuk menyempurnakan haknya.”

Sumber: https://twitter.com/aboalmubarak/status/753162020296466432

Asy Syaikh Syaikh Ahmad bin Mubarak bin Qadzlan al-Mazru’riy hafizhahullohuย  berkata:

“Setiap pegawai di lembaga-lembaga yang ada, apakah kedudukannya kecil atau besar, dia dituntut untuk bekerja dengan kekuatan dan amanah maka jika tidak ada kekuatan atau amanah hilang, pekerjaanpun akan terlantar.”

Sumber: https;//twitter.com/aboalmubarak/status/753162516402999297

Dinukil dari:

Whatsapp Salafy Indonesia

Channel Telegram : http://bit.ly/ForumSalafy

 

Kerja Lembur Fiktif

Pertanyaan Keempat dari Fatwa Nomor: 14398 (Nomor bagian 23; Halaman 424)

Pertanyaan 4: Kami di kantor kementerian diberi kerja lembur yang bersifat fiktif. Dan menurut mereka tugas tersebut adalah sebagai imbalan bagi yang ingin bekerja keras sepanjang tahun. Saya pernah mendebat direktur umum terkait masalah ini dan dia mengatakan, “Peraturan ini bukan seperti Alquran hingga tidak bisa diubah, namun itu diperlukan demi kemaslahatan.” Satu kali nama saya pernah dicatat untuk bekerja lembur tanpa sepengetahuan saya, dan di saat waktu kerja berakhir salah seorang kawan saya menandatangani tanda tangan saya, kemudian dia mengambil uang, dan ini sepengatahuan saya. Apa hukum masalah ini?

Jawaban 4:

Perbuatan ini tidak dibolehkan, karena perbuatan itu adalah khianat dan memakan harta dengan cara batil.Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman, dan janganlah sebagianmu memakan harta sebagian yang lain di antaramu dengan jalan yang batil Allah Ta’ala juga berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan uang yang disalurkan dari pekerjaan lembur ini haram mengambilnya. Oleh karena itu Anda harus menghindarinya, dan Anda tidak boleh membiarkan orang lain untuk mengambil uang tersebut atas nama Anda, karena hal itu sama dengan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghadyan

Dinukil dari: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=id&View=Page&PageID=9173&PageNo=1&BookID=3

Memanfaatkan Uang Hasil Pekerjaan Haram dan Memberi Harta Lebih kepada Salah Satu Anak

Fatwa Nomor:15217 (Nomor bagian 14; Halaman 74-75)

Pertanyaan:

Sudah lima puluh tahun ayah saya pergi ke kota Jeddahuntuk bekerja seperti hamba Allah lainnya. Allah menakdirkannya bekerja di rumah salah seorang direktur bank konvensional (ribawi). Selama beberapa waktu dia hanya bekerja di rumah, sampai akhirnya ditunjuk menjadi karyawan bank. Sekarang, dia telah bekerja di bank bersama direktur tersebut lebih dari tiga puluh lima tahun. Meskipun ayah saya tidak dapat membaca dan menulis, tetapi dia mampu mengumpulkan kekayaan cukup besar, yang dimanfaatkannya untuk membiayai pendidikan kualitas terbaik bagi saya dan saudara-saudara saya. Saya membeli makanan, pakaian, dan mobil juga dengan uang pemberian ayah saya tersebut hingga saya berusia kurang lebih dua puluh lima tahun. Alhamdulillah, kini saya seorang pemuda yang istiqamah, benar-benar mengenal Allah, takut hukuman-Nya, dan mengetahui bahaya riba di dunia dan akhirat. Akan tetapi, Ayah saya memberikan kado pernikahan berupa sebuah flat di apartemennya dan membuatkan sebuah kantor di tempat-tempat usahanya karena saya anaknya yang paling besar. Saya tidak dapat menerima semua itu karena bagi saya karunia Allah lebih baik dan lebih kekal. Oleh karena itu, saya mohon kepada Syekh yang terhormat untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini–semoga Allah memberikan balasan kebaikan untuk Anda.

1. Apakah uang ayah saya haram, mengingat bahwa selain bekerja di bank, dia juga melakukan bisnis jual beli real estate?

2. Apakah saya harus mengembalikan uang yang diberikan kepada saya selama beberapa tahun itu?

3. Apakah saya boleh menempati flat yang dihadiahkan kepada saya dan bekerja di tokonya, ataukah saya keluar dari sana, ataukah (saya dapat tinggal dengan) membayar sewa kepadanya?

4. Apakah ada kesempatan bertobat bagi ayah saya mengingat bahwa dia melaksanakan salat, bersedekah, berbakti kepada kedua orang tuanya, dan mengenal Allah, namun tidak mengetahui bahaya riba?

5. Apakah pekerjaan ayah saya itu masuk ke dalam kriteria laknat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap riba, sebagaimana dijelaskan dalam hadis beliau yang sudah masyhur?

6. Bagaimana Allah menerima tobat ayah saya, terlebih lagi dia sekarang sudah pensiun?Bagaimana cara untuk menghapuskan segala kesalahannya?

7. Apakah saya boleh melawannya demi mendapatkan rida Allah?

Jawaban:

Apabila Anda tidak mengetahui bahwa uang yang Anda peroleh dari ayah Anda itu didapatkan dengan cara haram, maka tidak ada dosa bagi Anda dalam hal ini. Sebab, hukum asalnya adalah bara’ah adz-dimmah (bebas dari konsekuensi, karena ketidaktahuan – ed.). Selain itu, harta yang diterima seseorang itu pada dasarnya adalah boleh kecuali jika dia mengetahui adanya sebab-sebab yang menjadikan harta itu haram. Dalam hal pemberian–warisan, misalnya–ayah Anda harus berlaku adil jika Anda memilki saudara laki-laki dan perempuan. Namun jika mereka mengizinkan Anda untuk mendapatkan yang lebih dan mereka memahami, maka hal itu dibolehkan

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil Ketua: Abdurrazzaq `Afifi

Anggota:

Abdullah bin Ghadyan

Shalih al-Fawzan

Abdul Aziz Alu asy-Syaikh

Dinukil dari: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=id&View=Page&PageID=5105&PageNo=1&BookID=3